Detail Penelitian
Penelitian/Kajian Strategis/Studi
Administrator
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan
KAJIAN KOMODITAS YANG COCOK DI KECAMATAN KANIGORO UNTUK MENDUKUNG KAWASAN AGROPOLITAN
Masalah pangan nasional merupakan hal yang penting dalam kerangka pembangunan nasional, khususnya dalam sektor pertanian. Hal ini berkaitan dengan masalah pengadaan pangan nasional, khususnya komoditas pangan (beras, kedelai, dan jagung), yang sampai saat ini masih bergantung pada kegiatan impor. Ketergantungan akan barang baku impor juga akan berakibat pada subsektor lainnya, misalnya peternakan, dimana peningkatan harga bahan baku akan berdampak pada peningkatan harga pakan yang akan berimbas pada kenaikan harga jual ternak. Hal ini disebabkan oleh terjadinya peningkatan kebutuhan konsumsi beras yang tidak diikuti oleh peningkatan produksi beras nasional. Salah satu faktor terjadinya kekurangan pangan nasional adalah terjadinya pengalihan lahan-lahan pertanian produktif (subur) kesektor-sektor bukan pertanian.
Keadaan di atas yang mendorong pemerintah melakukan berbagai program untuk peningkatan produksi pertanian, antara lain program intensifikasi dan ekstensifikasi. Selain bertujuan untuk peningkatan produksi pertanian, program tersebut ditujukan untuk peningkatan perekonomian rakyat, khususnya di pedesaan, yang akan berimplikasi pada perekonomian nasional. Namun program tersebut lebih banyak bertumpu pada pembangunan pertanian dari sisi budidaya tanaman yang merupakan sub-sistem dari sistem agrobisnis.
Agropolitan didefinisikan sebagai sebuah kota pertanian yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha agrobisnis serta mampu melayani, mendorong, menarik, menghela kegiatan pembangunan pertanian di wilayah sekitarnya (hinterland). Sistem agrobisnis merupakan pembangunan pertanian yang dilakukan secara terpadu, tidak hanya usaha budidaya (on farm) tetapi juga meliputi pembangunan agrobisnis hulu (penyediaan sarana pertanian), agrobisnis hilir (prosesing dan pemasaran hasil pertanian), dan jasa-jasa pendukungnya. Konsep dasar pengembangan agropolitan adalah sebagai upaya menciptakan pembangunan inter-regional berimbang, khususnya dengan meningkatkan keterkaitan pembangunan kota-desa (rural-urban linkage) melalui
pengembangan kawasan perdesaan yang terintegrasi di dalam sistem perkotaan secara fungsional dan spasial. Pengembangan ekonomi masyarakat pedesaan diupayakan melalui optimalisasi sumberdaya lokal dengan pengembangan ekonomi dan investasi dibidang prasarana dan sumberdaya alam. Pengembangan ekonomi agropolitan harus lebih bertumpu pada pembangunan sistem dan usaha agribisnis, dimana seluruh sub-sistem agribisnis (budidaya, saranaprasarana produksi, pengolahan hasil, pemasaran, dan jasa) dibangun secara simultan dan harmonis.
Batasan kawasan agropolitan tidak ditentukan oleh batasan administratif pemerintah, tetapi lebih ditentukan dengan memperhatikan keterkaitan ekonomi secara fungsional. Penetapan kawasan agropolitan hendaknya dirancang secara lokal dengan memperhatikan realitas perkembangan agrobisnis yang ada di setiap daerah. Bentuk dan kawasan agropolitan dapat meliputi satu wilayah desa/kelurahan atau kecamatan atau beberapa kecamatan dalam kabupaten/kota atau dapat juga meliputi wilayah yang dapat menembus wilayah kabupaten/kota lain yang berbatasan. Tahapan awal kegiatan pengembangan kawasan agropolitan adalah terbentuknya master plan (rencana induk) yang diperlukan dalam pengembangan kawasan, baik berupa pemilihan lokasi yang potensial, mewujudkan keterkaitan antar kegiatan yang memanfaatkan ruang, kebijakan mengenai kawasan, pengembangan kawasan-kawasan produktif, mengarahkan pembangunan kawasan agropolitan yang saling mendukung antar bagian kawasan, strategi pengembangan kawasan serta penyiapan penyusunan program-program pembangunan yang akan direncanakan dalam kurun waktu tertentu.
Kecamatan Kanigoro merupakan salah satu dari 22 (Dua puluh dua) Kecamatan di Kabupaten Blitar. Luas Kecamatan Kanigoro 55,55 Km2 atau 3,5% dari luas Kabupaten Blitar. Penduduk Kecamatan Kanigoro seluruhnya berjumlah 82.742 jiwa meliputi penduduk laki-laki 41.983 jiwa dan perempuan 40.759 jiwa, yang tersebar di 12 Desa/Kelurahan. Luas lahan yang digunakan untuk sektor kebun, perkebunan, dan persawahan mencapai 60,77% dari total wilayah Kecamatan Kanigoro. Potensi ini yang menjadi faktor pendukung dilaksanakannya penyusunan kajian komoditas unggulan di Kecamatan Kanigoro untuk mendukung kawasan agropolitan pada tahun anggaran 2015.
Tindak Lanjut :
-